Setelah lama mengabaikan blogger, sepertinya aku akan melanjutkan postingan di blog ini. Beberapa bulan ke depan aku akan disibukkan dengan pelatihan tulis cerpen PEKSIMIDA. Setiap cerpen tantangan yang aku buat akan di posting di blog ini. Harapannya siapapun kalian yang membaca memberi masukan atas cerpen yang kubuat. Kenapa? Hal ini sebagai koreksi untuk penulisan selanjutnya agar aku menjadi penulis yang matang, dan juga tidak mengecewakan IPB di ajang PEKSIMIDA wilayah JABODETABEK. Sebagai perhatian, tolong tidak memplagiat semua cerpen yang di posting di blog ini. Kalau mau mengambil sebagai bahan resensi atau apapun itu, tolong ijin dahulu. Karena kejahatan terbesar di dunia tulis menulis adalah mencuri ide orang lain. Mohon dimengerti dan terima kasih.
Alhamdulillah sudah menyelesaikan semester 3 dengan berdarah-darah. IP dipastikan terjun payung, yah alhamdulillah masih bertahan di angka 3. Kalau lihat IP temen lain yang terjun payung banget dari 3 ke 2, memang harus ditambah banget lah syukurnya.
Gue kira semester 3 itu udah berat, eh sekarang ada yang lebih bikin tewas lagi. Jadwal semester 4 makin menggila hahaha tiap pagi dari senin-jum'at praktikum lapang, semacam praktikum Dasar Hortikultura, Dasar Pemuliaan Tanaman, dan Teknologi Budidaya Tanaman. Praktikum lain yang nggak lapang hanya Dasar Proteksi Tanaman dan Metode Statistika. AGH memang feed the world lah. Kuliahnya aja begini hahaha
Apa sih Dasar Hortikultura?
Ini praktikum seru. Kita bakal nanem tanaman hortikultura macam buah, sayur, tanaman hias, atau tanaman obat. Kali ini kita nanam bayam, kangkung, cabai, terong, kacang panjang, dll. Kenapa nggak nanem buah? Ya kan kita praktikum hanya satu semester, tentu aja kita menanam tanaman semusim (yakali nanem duren yang fase buahnya 10 tahun bro). Selain praktikum menanam tanaman semusin, kita juga bakal fieldtrip ke kebun percobaan IPB di Pasir Sarongge, Cianjur. Seru kan? Iyalah AGH gitu loh hahaha mana hasil panennya kita konsumsi sendiri, ya sebelumnya harus dicatat dulu ya massa panennya buat data laporan akhir. Bagian ini lah yang bikin nggak bahagia hahaha laporan hmmm.
Kalau Dasar Pemuliaan Tanaman?
Nih bagi yang suka ngawin-ngawinin tanaman (bukan orang, please). Kita bakal belajar galur murni, P1, F2, back cross, dll nya. Kita belajar selfing tanaman dan mempelajari anakannya gimana. Apakah ada mutasi atau ekspresi gennya pada fenotip seperti apa. Kerennya adalah kita memakai tanaman yang kadang belum di release di pasaran loh! Masih originil karya dosen AGH IPB.
Terus Teknologi Budidaya Tanaman seperti apa?
Inilah tantangan yang berat hahaha kita bakal belajar bikin teras bangku. Itu loh kayak sawah tingkat-tingkat. Kita juga akan diajari naik traktor dan cara mengoprasikannya. Praktikum sesi UTS seputar lahan kering, baru deh sesi UAS lahan basah. Nyemplung ke sawah tentu aja hahaha. Seru deh main air, kotor-kotoran, sekaligus belajar juga.
Dasar Proteksi Tanaman dan Metode Statistika itu gimana?
Dasar Proteksi Tanaman diampu oleh Departemen Proteksi Tanaman. Ini mata kuliah interdept yang diambil anak AGH. Kita belajar penyakit dan hama yang menyerang pada tanaman. Praktikumnya tentu aja di lab dan gambar (kelemahan gue banget ini mah). Kita gambar hama dan penyakit yang diamati di mikroskop. Matkul ini tentu penting karena masa kita bisa menanam tapi ngga tahu penyakitnya? Timpang sebelah dong. Kalau Metode Statistika diampu oleh Departemen Statistika.
Kok anak AGH dapet statistika sih?
Semua departemen juga dapet kok, nggak AGH aja. Statistika bermanfaat buat penelitian kita pas skripsi. Kita kan ada percobaan tuh, nah kita harus tahu pengolahan data seperti apa untuk mendapatkan kesimpulan akhir percobaan yang relevan. Kalau datanya valid, otomatis kesimpulan akhirnya bener.
Oh iya ketinggalan, jangan lupakan Fisiologi Tumbuhan yang diampu Departemen Biologi. Wiiih ini emaknya Botani Umum yang bikin mati ituh (tapi keajaiban sekali huruf mutunya di krs). Kita belajar metabolisme sel, respirasi, fotosintesis, dll nya itu dari segi prosesnya. Jadi ya harus memahami fitokrom, enzim-enzim, dan setiap tahapan yang ada dalam proses pembentukan fotosintat. Mata kuliah ini jadi momok buat anak AGH karena tahap sulitnya di atas rata-rata (katanya).
Itu lah mata kuliah yang gue ambil di semester 4 ini, selain tambahan SC yaitu perdagangan pertanian dari ESL. Semester 4 ini harus sehat karena praktikum 100% dan susah banget buat pengganti. Udah kuliah berat, masih juga disibukkan dengan organisasi dan kepanitiaan yang alhamdulillah diamanahi sebagai Kadiv. Kesibukan bukan dianggap sebagai beban, namun tantangan. Kita diajari untuk manajemen waktu yang baik agar antara organisasi, ekstrakurikuler, dan akademik nggak terganggu. Nggak mengabaikan kuliah aka nilai aka IP karena tujuan kita datang jauh-jauh ke Bogor kan menimba ilmu.
Buat lu yang baca posting ini, jangan takut masuk AGH loh. Pertanian itu menyenangkan. Pertanian itu ladang pahala. Alasannya? karena tanpa budidaya tanaman, seluruh dunia nggak bisa makan! Semua dokter, teknisi, manager, dan semua profesi butuh makan kan? Dan tombak itu ada di tangan lulusan AGH! Oh iya, menjadi petani itu nggak identik dengan pacul, sawah, dan kotor. Emang sih selama praktikum kita belajar di lapang, tapi itu adalah pengetahuan dasar. Kalau lulus dari AGH atau univ pertanian lain, tunjukin apa itu petani berdasi. Lu udah ada ilmu dan sistem managerial yang baik. Jadi kerja cerdas, jangan kerja keras. Lu bisa buka usaha bidang pertanian yang mana lu punya buruh yang ngerjain lahan lu. Kasih buruh lu pengetahuan akan cara bertani yang tepat sehingga menghasilkan panen yang melimpah. Kalo panennya maksimum juga larinya ke kantong lu duitnya. Tapi juga harus diingat, jangan lupakan kesejahteraan buruh atau petani ya. Mereka butuh bantuan kita, lu dan gue, buat hidup yang lebih baik.
Akhir kata, FEED THE WORLD!!!
Gue kira semester 3 itu udah berat, eh sekarang ada yang lebih bikin tewas lagi. Jadwal semester 4 makin menggila hahaha tiap pagi dari senin-jum'at praktikum lapang, semacam praktikum Dasar Hortikultura, Dasar Pemuliaan Tanaman, dan Teknologi Budidaya Tanaman. Praktikum lain yang nggak lapang hanya Dasar Proteksi Tanaman dan Metode Statistika. AGH memang feed the world lah. Kuliahnya aja begini hahaha
Apa sih Dasar Hortikultura?
Ini praktikum seru. Kita bakal nanem tanaman hortikultura macam buah, sayur, tanaman hias, atau tanaman obat. Kali ini kita nanam bayam, kangkung, cabai, terong, kacang panjang, dll. Kenapa nggak nanem buah? Ya kan kita praktikum hanya satu semester, tentu aja kita menanam tanaman semusim (yakali nanem duren yang fase buahnya 10 tahun bro). Selain praktikum menanam tanaman semusin, kita juga bakal fieldtrip ke kebun percobaan IPB di Pasir Sarongge, Cianjur. Seru kan? Iyalah AGH gitu loh hahaha mana hasil panennya kita konsumsi sendiri, ya sebelumnya harus dicatat dulu ya massa panennya buat data laporan akhir. Bagian ini lah yang bikin nggak bahagia hahaha laporan hmmm.
Fieldtrip ke Pasir Sarongge, Cianjur.
Nih bagi yang suka ngawin-ngawinin tanaman (bukan orang, please). Kita bakal belajar galur murni, P1, F2, back cross, dll nya. Kita belajar selfing tanaman dan mempelajari anakannya gimana. Apakah ada mutasi atau ekspresi gennya pada fenotip seperti apa. Kerennya adalah kita memakai tanaman yang kadang belum di release di pasaran loh! Masih originil karya dosen AGH IPB.
Terus Teknologi Budidaya Tanaman seperti apa?
Inilah tantangan yang berat hahaha kita bakal belajar bikin teras bangku. Itu loh kayak sawah tingkat-tingkat. Kita juga akan diajari naik traktor dan cara mengoprasikannya. Praktikum sesi UTS seputar lahan kering, baru deh sesi UAS lahan basah. Nyemplung ke sawah tentu aja hahaha. Seru deh main air, kotor-kotoran, sekaligus belajar juga.
Dasar Proteksi Tanaman dan Metode Statistika itu gimana?
Dasar Proteksi Tanaman diampu oleh Departemen Proteksi Tanaman. Ini mata kuliah interdept yang diambil anak AGH. Kita belajar penyakit dan hama yang menyerang pada tanaman. Praktikumnya tentu aja di lab dan gambar (kelemahan gue banget ini mah). Kita gambar hama dan penyakit yang diamati di mikroskop. Matkul ini tentu penting karena masa kita bisa menanam tapi ngga tahu penyakitnya? Timpang sebelah dong. Kalau Metode Statistika diampu oleh Departemen Statistika.
Kok anak AGH dapet statistika sih?
Semua departemen juga dapet kok, nggak AGH aja. Statistika bermanfaat buat penelitian kita pas skripsi. Kita kan ada percobaan tuh, nah kita harus tahu pengolahan data seperti apa untuk mendapatkan kesimpulan akhir percobaan yang relevan. Kalau datanya valid, otomatis kesimpulan akhirnya bener.
Oh iya ketinggalan, jangan lupakan Fisiologi Tumbuhan yang diampu Departemen Biologi. Wiiih ini emaknya Botani Umum yang bikin mati ituh (tapi keajaiban sekali huruf mutunya di krs). Kita belajar metabolisme sel, respirasi, fotosintesis, dll nya itu dari segi prosesnya. Jadi ya harus memahami fitokrom, enzim-enzim, dan setiap tahapan yang ada dalam proses pembentukan fotosintat. Mata kuliah ini jadi momok buat anak AGH karena tahap sulitnya di atas rata-rata (katanya).
Itu lah mata kuliah yang gue ambil di semester 4 ini, selain tambahan SC yaitu perdagangan pertanian dari ESL. Semester 4 ini harus sehat karena praktikum 100% dan susah banget buat pengganti. Udah kuliah berat, masih juga disibukkan dengan organisasi dan kepanitiaan yang alhamdulillah diamanahi sebagai Kadiv. Kesibukan bukan dianggap sebagai beban, namun tantangan. Kita diajari untuk manajemen waktu yang baik agar antara organisasi, ekstrakurikuler, dan akademik nggak terganggu. Nggak mengabaikan kuliah aka nilai aka IP karena tujuan kita datang jauh-jauh ke Bogor kan menimba ilmu.
Buat lu yang baca posting ini, jangan takut masuk AGH loh. Pertanian itu menyenangkan. Pertanian itu ladang pahala. Alasannya? karena tanpa budidaya tanaman, seluruh dunia nggak bisa makan! Semua dokter, teknisi, manager, dan semua profesi butuh makan kan? Dan tombak itu ada di tangan lulusan AGH! Oh iya, menjadi petani itu nggak identik dengan pacul, sawah, dan kotor. Emang sih selama praktikum kita belajar di lapang, tapi itu adalah pengetahuan dasar. Kalau lulus dari AGH atau univ pertanian lain, tunjukin apa itu petani berdasi. Lu udah ada ilmu dan sistem managerial yang baik. Jadi kerja cerdas, jangan kerja keras. Lu bisa buka usaha bidang pertanian yang mana lu punya buruh yang ngerjain lahan lu. Kasih buruh lu pengetahuan akan cara bertani yang tepat sehingga menghasilkan panen yang melimpah. Kalo panennya maksimum juga larinya ke kantong lu duitnya. Tapi juga harus diingat, jangan lupakan kesejahteraan buruh atau petani ya. Mereka butuh bantuan kita, lu dan gue, buat hidup yang lebih baik.
Akhir kata, FEED THE WORLD!!!
Haloooh... blog ini fix makin tak terurus. Maaf sekarang mainannya tumblr. Jadi ya kalo mau kepo nengok kesana aja yah.
Sekarang aku udah semester tiga. Semester adaptasi setelah lolos dari jeratan TPB. Alhamdulillah penutupan TPB berakhir dengan IPK yang gemilang. Nggak penuh di 4,0 sih, tapi lebih dari 3,5 haha. Bersyukur ge mata kuliah Fisika dan Landasan Matematika nggak bikin gagal cumlaude (IPB nggak bisa cumlaude kalo ada nilai C ya gengs).
Pengalaman selama TPB? Yah masih inget tuh harap-harap cemas sesi UTS. ya kan anak baru tuh, jadi pada alay dalam menghadapi UTS. Udah berasa mau UAN ajah, sampai pada istighosah akbar hihihi (Belom pada tahu siksa anak semster tiga siih). Sesi UAS udah nggak sealay UTS sih. Selow. Cuma harap-harap cemas sama IPK. Kan, kalo kurang dari 1,75, ditendang sama IPB alias DO!!! Jadi jangan main-main sama TPB ya (fyi, sekarang namanya PPKU).
Sesi semester 1-2 alhamdulillah banyak rezeki. Juara 1 Essential Tulis Cerpen BEM TPB, Juara 2 Tulis Cerpen IAC BEM KM IPB, dan Juara 1 Basket Semarak BM ke-4. Alhamdulillah banyak pembelajaran dari semua rangkaian tersebut. Termasuk lolos juga di UKM Century IPB. Itu loh, UKM Wirausaha yang kerjaannya bisnis, hihihi.
Sekarang, mari lupakan TPB. TPB itu tempatnya orang gabut dan santai. Iyelah jumlah sksnya ajah nggak sebanyak di departemen. Kupu-kupu semua lah mahasiswanya. Betah di asrama. Semester tiga? Jangan harap! Semester ini benar-benar penentuan. Kamu bakal sadar salah jurusan atau enggak ya di semester ini. Kamu akan belajar semua materi mayor, interdept, minor atau sc sesuai pilihanmu. Di semester ini kamu juga akan ngerasain gimana sadisnya krs-an anak IPB. Iyaaap, sudah bukan rahasia lagi kalo krs-an IPB ituh sering bikin gigit jari. Gimana nggak, kita rebutan sc yang kuotanya sedikit ituh dengan ribuan mahasiswa lain. Alhasil, syukur nih ya kamu masuk web dengan lancar, kalo nggak (alias nge-lag) siap-siap ajah hubungin temen buat isi krsmu. Kalo ngga? Ya nasibnya sih nggak dapet jadwal sesuai yang kamu atur. Akibat lain? siap-siap aja kamu nggak dapet mayor sendiri. Jadi inget quotes dari temen.
"Jangankan percintaan, krs'an aja ditikung. Mayor sendiri pula."
Tikung-menikung sudah biasa pas krs'an. Gerak cepat yah. Biasanya kalo nggak dapet lobi temen biar lepas matkulnya, itu pun kalo pas udah lepas nggak keburu diambil orang lain yang kebetulan lagi on hohoho.
Masuk ke kuliah, yah lancar lah. Paling kebiasaan dari TPB ya ketiduran di kelas. Semester tiga itu giat-giatnya ikut semua kepanitiaan. Alasannya ya biar tambah koneksi temen dan kakak tingkat, beruntung lagi kalo dapet pacar (eaaa baper -_-). Tapi hati-hati, ukur kapasitas diri ya. Ikut banyak kepanitiaan hingga lupa sama kuliah itu haram. Kuliah itu pokoknya yang nomor satu! Jangan sampai jadi korban. Jangan kayak aku, ikut banyak banget kepanitian dan organisasi. Jalan sih, sanggup ngejalaninya, tapi pas UTS udah SKS akut. Dampaknya? Hahaha ZOOONK --"
Nilai sesi UTS belum keluar sih, jadi belom bisa banyak cerita tentang soal-soal UTS yang cikiwiiiiiw. AGH gitu looooh, materinya lagi dapat DASGRON, TEKBEN, PIT, EKOPER, AGROEKO, PEMULTAN, BOTUM, dll. Diantara semua materi itu, yang kampret hanyalah BOTUM. Njiiir banget emang itu materi. Soalnya susah tingkat dewa. Temenku ajah yang pinter banget (beasiswa chevron) bilang baru kali ini dia nggak bisa ngerjain. Gegara dosennya yang super memang. Hhhh nyeritain Botum jadi bikin laper. Intinya ya, dikhawatirkan semua anak AGH dapet nilai mutu rantai carbon (BACA : C).
Cuap-cuapku panjang kan? Hahaha maapinn berisik. Kapan-kapan aku lanjutin deh kalo sempat. Ini lagi sibuk mau ngerjain laporan (Eaaa sok sibuk banget --"). Emm btw, doain aku ke PEKSIMIDA yah. Itu loh Pekan Seni Mahasiswa Daerah, tentu aja mewakili dibidang tulis cerpen. Secara juara 1nya entah pergi kemana jadi nggak bisa ngewakilin. Jadi wakil IPB? its first time!!! (Kalo dipikir, sejak aku sma, karir pengalaman nggak pernah secemerlang selama ini di kuliah ini. Alhamdulillah).
Bye-bye reader. Kalian semangat sekolah (yang lagi sekolah) dan kuliah (yang lagi kuliah) ya. Jangan lupa menata hidup yang lebih baik. Do your best, gengs :))))
Sekarang aku udah semester tiga. Semester adaptasi setelah lolos dari jeratan TPB. Alhamdulillah penutupan TPB berakhir dengan IPK yang gemilang. Nggak penuh di 4,0 sih, tapi lebih dari 3,5 haha. Bersyukur ge mata kuliah Fisika dan Landasan Matematika nggak bikin gagal cumlaude (IPB nggak bisa cumlaude kalo ada nilai C ya gengs).
Pengalaman selama TPB? Yah masih inget tuh harap-harap cemas sesi UTS. ya kan anak baru tuh, jadi pada alay dalam menghadapi UTS. Udah berasa mau UAN ajah, sampai pada istighosah akbar hihihi (Belom pada tahu siksa anak semster tiga siih). Sesi UAS udah nggak sealay UTS sih. Selow. Cuma harap-harap cemas sama IPK. Kan, kalo kurang dari 1,75, ditendang sama IPB alias DO!!! Jadi jangan main-main sama TPB ya (fyi, sekarang namanya PPKU).
Sesi semester 1-2 alhamdulillah banyak rezeki. Juara 1 Essential Tulis Cerpen BEM TPB, Juara 2 Tulis Cerpen IAC BEM KM IPB, dan Juara 1 Basket Semarak BM ke-4. Alhamdulillah banyak pembelajaran dari semua rangkaian tersebut. Termasuk lolos juga di UKM Century IPB. Itu loh, UKM Wirausaha yang kerjaannya bisnis, hihihi.
Sekarang, mari lupakan TPB. TPB itu tempatnya orang gabut dan santai. Iyelah jumlah sksnya ajah nggak sebanyak di departemen. Kupu-kupu semua lah mahasiswanya. Betah di asrama. Semester tiga? Jangan harap! Semester ini benar-benar penentuan. Kamu bakal sadar salah jurusan atau enggak ya di semester ini. Kamu akan belajar semua materi mayor, interdept, minor atau sc sesuai pilihanmu. Di semester ini kamu juga akan ngerasain gimana sadisnya krs-an anak IPB. Iyaaap, sudah bukan rahasia lagi kalo krs-an IPB ituh sering bikin gigit jari. Gimana nggak, kita rebutan sc yang kuotanya sedikit ituh dengan ribuan mahasiswa lain. Alhasil, syukur nih ya kamu masuk web dengan lancar, kalo nggak (alias nge-lag) siap-siap ajah hubungin temen buat isi krsmu. Kalo ngga? Ya nasibnya sih nggak dapet jadwal sesuai yang kamu atur. Akibat lain? siap-siap aja kamu nggak dapet mayor sendiri. Jadi inget quotes dari temen.
"Jangankan percintaan, krs'an aja ditikung. Mayor sendiri pula."
Tikung-menikung sudah biasa pas krs'an. Gerak cepat yah. Biasanya kalo nggak dapet lobi temen biar lepas matkulnya, itu pun kalo pas udah lepas nggak keburu diambil orang lain yang kebetulan lagi on hohoho.
Masuk ke kuliah, yah lancar lah. Paling kebiasaan dari TPB ya ketiduran di kelas. Semester tiga itu giat-giatnya ikut semua kepanitiaan. Alasannya ya biar tambah koneksi temen dan kakak tingkat, beruntung lagi kalo dapet pacar (eaaa baper -_-). Tapi hati-hati, ukur kapasitas diri ya. Ikut banyak kepanitiaan hingga lupa sama kuliah itu haram. Kuliah itu pokoknya yang nomor satu! Jangan sampai jadi korban. Jangan kayak aku, ikut banyak banget kepanitian dan organisasi. Jalan sih, sanggup ngejalaninya, tapi pas UTS udah SKS akut. Dampaknya? Hahaha ZOOONK --"
Nilai sesi UTS belum keluar sih, jadi belom bisa banyak cerita tentang soal-soal UTS yang cikiwiiiiiw. AGH gitu looooh, materinya lagi dapat DASGRON, TEKBEN, PIT, EKOPER, AGROEKO, PEMULTAN, BOTUM, dll. Diantara semua materi itu, yang kampret hanyalah BOTUM. Njiiir banget emang itu materi. Soalnya susah tingkat dewa. Temenku ajah yang pinter banget (beasiswa chevron) bilang baru kali ini dia nggak bisa ngerjain. Gegara dosennya yang super memang. Hhhh nyeritain Botum jadi bikin laper. Intinya ya, dikhawatirkan semua anak AGH dapet nilai mutu rantai carbon (BACA : C).
Cuap-cuapku panjang kan? Hahaha maapinn berisik. Kapan-kapan aku lanjutin deh kalo sempat. Ini lagi sibuk mau ngerjain laporan (Eaaa sok sibuk banget --"). Emm btw, doain aku ke PEKSIMIDA yah. Itu loh Pekan Seni Mahasiswa Daerah, tentu aja mewakili dibidang tulis cerpen. Secara juara 1nya entah pergi kemana jadi nggak bisa ngewakilin. Jadi wakil IPB? its first time!!! (Kalo dipikir, sejak aku sma, karir pengalaman nggak pernah secemerlang selama ini di kuliah ini. Alhamdulillah).
Bye-bye reader. Kalian semangat sekolah (yang lagi sekolah) dan kuliah (yang lagi kuliah) ya. Jangan lupa menata hidup yang lebih baik. Do your best, gengs :))))
Aku menarik nafas lebih lama. Aroma
tanah sangat menyengat. Saat – saat seperti ini sangat kugemari. Ya, aroma
petrichor yang tersimpan dalam tanah menyesak keluar, menekan paru – paruku
selaras dengan aura dingin hujan yang jatuh. Aku suka hujan. Salah satu alasan
yang mungkin kugunakan hingga aku sampai di tempat ini, Bogor.
Bogor, sebuah kota yang dikenal
dengan sebutan kota hujan. Juga, kota imipian yang sejak dulu ingin aku kunjungi.
Aku ingin tinggal di kota ini untuk waktu yang lama. Anggap waktu yang cukup
kurang lebih empat tahun. Waktu yag cukup untuk menikmati hujan, mencium aroma
petrichor, lalu bermain hujan – hujanan sesekali.
Bogor adalah kota impian, namun
tanpa menumpang tempat yang tepat bagaimana aku mampu menikmati itu semua?
Menumpang? Maaf, tempat ini lebih
dari itu. Setidaknya aku bermimpi menjadi bagian tempat ini sejak lima tahun.
Mimpi yang nyaris hilang karena sikap pesimistis. Kau tau apa nama tempat ini?
Sebuah tempat yang penuh dengan
hilir mudik mahasiswa, pencetak generasi unggul pertanian Indonesia, juga
kampus rakyat yang kadang menjadi pilihan kesekian para mahasiswanya.
Mungkin mereka kesekian, tidak
untukku. Tempat ini selalu menjadi pilihan pertama, seolah aku tak memiliki
pilihan lain selain tempat ini.
Ya, tempat ini, Institut Pertanian
Bogor.
***
Lima tahun lalu
Pandanganku menembus jendela. Hujan
bulan Januari jatuh dengan cantiknya. Aku ingin menembus rintik derasnya.
Bermain hujan – hujanan dan meneteskan air mata. Bersama hujan air mataku pasti
tidak kelihatan. Aku ingin amnesia. Melupakan sejenak permasalahan yang
terjadi. Melupakan semua beban yang sedang menghimpit. Dadaku sesak siap untuk meledak.
Masalah yang seharusnya tidak
dihadapi anak kelas sembilan SMP.
“Setelah ini kau ingin masuk SMA
mana Far?” senggol seseorang menyadarkanku. Aku menoleh. Monica tengah
tersenyum lebar.
“Pasti SMA Genteng dong.” Aku
tersenyum lebar. Sejujurnya hatiku tak yakin meski aku mencoba optimis.
SMA Genteng, mengingatnya aku
sempat kecewa. SMA Genteng terkenal dengan siswa hebatnya. Sering menang dalam
semua kompetisi, entah OSN, FL2SN, O2SN, atau pun lomba lokal tingkat SMA.
Semua siswa SMP di Banyuwangi mimpi
masuk SMA 1 Genteng, khususnya di Banyuwangi selatan. Aku tak jauh berbeda dari
mereka, setidaknya aku punya tiket masuk SMA Genteng dengan telak. Peringkat
try outku masuk dua puluh besar dan raportku juga tinggi. Tak ada alasan aku
tak masuk SMA faforit itu. Alasan lain selain SMA 1 Genteng gudangnya siswa
berprestasi adalah aku punya tujuan jangka panjang. Tujuan yang dianggap anak
SMP kebanyakan adalah pemikiran yang muluk – muluk.
Aku ingin masuk IPB. Dan aku yakin
SMA 1 Genteng mampu membawaku ke sana.
Namun permasalahan akhir – akhir
ini membuatku cemas. Keinginanku ditarik ulur, bahkan ditebas habis untuk
berhenti berharap. Ini karena kelargaku. Semua keluargaku berada di Bali,
sementara aku kost sendirian di Banyuwangi. Setiap akhir pekan aku pulang ke
rumah nenek. Selanjutnya aku menjalani rutinitas menjadi anak kost’an dengan
kasih sayang minim dari orang tua.
Sudah setahun keluargaku merantau
di Bali. Mencari nafkah untuk membiayai sekolahku. Keluarga yang dulunya bisa
dibilang kaya kini berputar 180 derajat. Awalnya serba berkecukupan kini
kekurangan, bahkan biaya sekolahku sering disumbang dari guru – guruku. Mungkin
faktor sebagai siswa yang berprestasi di akademis dan non akademis. Aku masuk
tim inti basket SMP 1 Cluring dan masalah akademis aku sering lomba keluar kota
mewakili sekolah. Setidaknya masalah biaya orang tuaku bisa bernafas lega.
Entah kali ini masalah biaya atau
lainnya, aku tak boleh masuk SMA 1 Genteng. Semua orang menyuruhku masuk SMA 1
Glagah. Sebuah tempat yang tak aku tau kehidupan di dalamnya. Sebuah tempat
yang intinya masih kalah dengan SMA 1 Genteng. Lagi, sebuah tempat yang
kuragukan mampu mewujudkan mimpiku, masuk IPB. Awalnya orang tua mendukungku,
berkata apapun kata orang biarlah mereka bicara, paling penting toh aku akan
sekolah SMA 1 Genteng. Namun ucapan Bapak hari itu mampu menghancurkan hatiku.
Aku sakit. Aku tak memiliki tenaga lagi untuk melanjutnya mimpiku.
Far,
bapak tau keinginanmu, tapi bapak juga tidak bisa menolak permohonan nenek,
menyuruhmu sekolah SMA 1 Glagah saja. Selama ini bapak merasa belum bisa
membahagiakan nenek. Apa permintaan beliau yang sederhana ini tidak bisa bapak
kabulkan ...
Menurut bapak sederhana, tidak
untukku! Teriak hatiku menangis.
Jadi
bapak mohon kamu ikut seleksi SMA 1 Glagah ya. Toh ada mama di sana, setidaknya
kamu ada yang jagain. Nggak sendirian terus.
Sendiri? Sejak lama aku sudah
sendiri dan aku tak masalah dengan kesendirian ini. Aku sudah sering sakit dan
aku tak masalah dengan semua penyakit ini. Namun jangan dengan mimpiku. Jangan
merampasnya untuk membuatku jatuh. Mungkin dengan jatuh, aku tak mampu berdiri
dan membenci diri sendiri.
Membenci diri sendiri? Hal itu
sudah kulakukan tepat saat aku menginjak gapura selamat datang SMA 1 Glagah.
Dengan otak yang dianggap encer semua orang, aku menjalani serangkaian tes
dengan mudah. Selancar jalan tol, meski dalam setiap prosesnya aku ingin lari.
Aku ingin membuatnya gagal namun hati kecilku tak tega. Semua ini demi orang
tuaku, masa bodoh dengan keinginan nenek atau orang lain. Aku tak perduli.
Di sinilah aku sekarang. SMA 1
Glagah. Neraka dimulai.
***
Tiga tahun lalu.
Aku menjalani hari tidak
semestinya. Seperti rutinitas, aku datang, duduk, mengamati pelajaran, sekedar
berbasa – basi dengan teman, lalu pulang ke kostan. Ya, aku kost lagi. Pada
akhirnya rayuan ada mama yang tinggal tak jauh dari sekolah tak ada gunanya.
Aku tak kerasan dan memilih tinggal sendiri.
Tempat baru, suasana baru.
Seharusnya yang kulakukan di tempat ini belajar dengan baik, berteman dengan
semua orang, menikmati hidup layaknya anak baru SMA. Sekali – kali tidak! Aku
membenci tempat ini setiap malam. Sebanyak air mata yang jatuh saat menulis
buku harian. Sebanyak rasa menyesal karena tidak masuk SMA impian. Bayangkan
aku sudah pasti masuk SMA 1 Genteng tapi gagal karena permintaan konyol orang
lain! Orang lain yang tidak tau hidupku namun ikut campur. Orang lain yang
merasa semua pendapatnya benar. Aku benci orang lain. Sikap apatisku berkembang
hingga aku menutup diri dari teman – teman sekelas. Merusak diri sendiri
mungkin memang mudah.
Rasa rendah diri semakin nyata.
Lagi, kehidupanku tak bebas karena sekolahku kali ini dibiayai om. Awalnya
bantuan biasa, sekedar menambah uang jajan. Namun orang tua yang buat makan
saja susah, membuat yang awalnya uang jajan itu berubah menjadi bulanan.
Berikutnya uang spp perbulan juga dilunasi.
Secara nyata tidak pernah ada
tuntutan akan nilai, apalagi kebebasan. Sesekali om bertanya tentang nilaiku,
mengevaluasi bagaimana prestasiku di sekolah. Dengan niat sekolah yang rendah,
bisa diduga nilaiku seperti apa. Yang awalnya SMP selalu masuk sepuluh besar,
SMA berubah menjadi dua puluh besar. Jika dulu lomba selalu ke luar daerah,
sekarang ikut lomba saja tak pernah.
Merusak diri sendiri sangat mudah
bukan?
Hingga pada satu titik aku sadar,
tak ada gunanya larut dalam masa lalu. Tak ada gunanya menyesali hal yang sudah
terjadi. Tak ada gunanya menyimpan iri akan SMA 1 Genteng. Tak ada gunanya
merusak diri sendiri telalu lama.
Apakah aku akan terus seperti ini?
Apakah aku akan tetap diam sementara semua orang sudah melaju? Apakah tidak
bisa sukses jika selain SMA1 Genteng? Pertanyaan yang membuatku berpikir dalam.
Mengapa aku melakukan hal bodoh ini terlalu lama? Dua semester bukan waktu yang
singkat. Cukup untuk membuatku bodoh. Cukup untuk tak dilihat siapapun.
Dan lagi, cukup untuk melupakan
mimpi lama, masuk IPB.
Sejak itulah aku bertekad tidak
akan kalah. Harus kubuktikan hidupku baik – baik saja. Aku harus berubah!
Perlahan aku mulai membuka diri. Ikut tim basket SMA 1 Glagah, masuk klub
kimia, juga masuk redaksi majalah SMA 1 Glagah.
Bergerak dan terus melakukan
perubahan. Seperti kata Einstein “Life is
like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving”.
Aku sudah moving. Setidaknya kegiatan merusak diri sendiri sudah aku
hentikan. Aku memang tak secemerlang SMP, namun di tempat baru aku berhasil
menorehkan prestasi. Bila di kelas 10 peringkat selalu 20 besar, sekarang 10
besar. Juga, Juara 1 mading 3D se-Jatim pada event bulan bahasa, 20 besar
pemenang blogger I Love Banyuwangi, dan harapan II OSN Kebumian. Selain itu
dipercaya menjadi pemimpin redaksi majalah Sketsa SMA 1 Glagah.
Menjadi pemred majalah membuka
mataku lebar. Ada hal tertentu yang mungkin tak bisa aku peroleh seandainya aku
masuk SMA 1 Genteng. Mungkin tak ada cerita aku menjadi pemred majalah. Mungkin
tak ada cerita tentang persahabatan dalam satu tim. Mungkin tak ada cerita
pusingnya mencari sponsor. Mungkin tak ada cerita rasanya berbagi buka puasa
bersama masyarakat di jalan dalam acara Sketsa On the Road. Mungkin tak ada
cerita gugup ketika menunggu majalah terbit. Terpenting, mungkin tidak ada
pembelajaran bagaimana bersyukur dan menerima keadaan yang terjadi dalam hidup.
Sebaliknya, mungkin aku menjadi kutu buku yang egois.
Tiba – tiba, aku sangat bersyukur masuk SMA 1 Glagah meskipun
terlambat menyadarinya.
***
Satu tahun lalu.
Tak terasa dua tahun berlalu cepat,
ini tahun ketiga di SMA. Sebentar lagi aku akan lulus. Sebentar lagi aku akan
menginjak jenjang selanjutnya. Pasti perguruan tinggi?
Tentu, dan itu IPB.
Tidak! Itu yang keluar dari bibir
ibuku.
Sejujurnya
ibu tak sanggup menguliahkanmu, kecuali kamu dapat beasiswa. Dengan begitu ibu
hanya perlu menambah uang bulanan.
Tidak! Kali ini aku tak boleh
hancur. Tak boleh kecil hati karena masalah biaya. Pasti ada jalan. Aku tak mau
berpikiran sempit seperti ketika masuk SMA.
Aku diam – diam melirik bapak.
Beliau yang sedang melayani pembeli kopi tak sadar sedang kupandangi. Aku tau
keluarga ini sudah kesulitan biaya, namun bapak tak pernah pesimis. Setidaknya
beliau tidak menampakkan wajah itu di depanku. Tidak untuk membuatku menyerah.
Saat – saat berada di Bali seperti
ini membuatku nyaman, sekaligus sedih. Nyaman karena aku bertemu orang tuaku.
Rasanya empat tahun jarang bertemu dan seandainya bertemu pun hanya ketika
libur semester, aku senang melihat mereka hari ini. Sekaligus sedih karena jika
dihitung dengan jari, sudah empat tahun kami menjalani hari dengan kehidupan
seperti ini. Tidur di kostan yang layaknya dihuni satu orang namun ditempati
satu keluarga. Tidur layaknya ikan pindang yang berjejer. Terkadang ibu dan
bapak mengalah tidur di lantai. Sedangkan
kasur untuk aku, Mas yus, dan Dani, itu pun jika aku sedang libur
semester.
“Kamu ingin masuk dimana?” Tanya
bapak menarikku kembali dari masa lalu.
“IPB pak.” sahutku mantap.
“Kenapa tidak yang dekat saja?
Malang kan strategis.” Bapak menyesap rokoknya. Memandangku.
“Sudah empat tahun aku jarang
bertemu bapak dan ibu. Di Malang atau pun Bogor juga sama, tak bisa bertemu
bapak dan ibu. Kenapa tidak sekalian jauh saja?”
“Begitu ...” Bapak mengangguk.
“Kamu sudah pikirkan strategi untuk kemungkinan terburuk?”
Bapak adalah seorang planning terbaik. Semua sudah
direncanakan seandainya kemungkinan terburuk terjadi. Contohnya? Aku tak masuk
PTN manapun. Dampaknya? Siap – siap saja jadi pegawai laundry.
Sumpah demi apapun, aku tak ada
pikiran kesana.
“Aku tak mau selain IPB pak, jadi
rencana A daftar diploma IPB. Rencana B nyoba daftar AMG, sekaligus nunggu
SNMPTN. Rencana C ikut SBMPTN.”
“Seandainya semua nggak lolos?”
Aku menelan ludah. “Jika itu
terjadi ...” nafasku terdengar berat. “Aku akan cari kerja.”
Memang bibirku berkata demikian,
namun otak remajaku tidak pernah berpikir sampai kesana. Apa yang mampu anak
SMA kerjakan? Mungkin aku akan membantu ibu jualan nasi setiap pagi atau jualan
kopi membantu bapak. Sisanya aku mungkin bisa kerja di hotel dimana kakakku
kerja. Itu pun kemungkinannya kecil karena aku anak SMA, bukan SMK elektronika
industri seperti kakakku.
Bapak tersenyum. “Berjuang ya,
bapak juga berjuang di sini.”
Aku tersenyum. Selanjutnya aku kembali
ke Banyuwangi membawa kotak taruhan. Selama beberapa bulan ke depan aku berjudi
dengan keberuntungan. Berharap semua keberuntungan sedang menghampiriku.
Jika anak lain sibuk bimbingan
belajar di lembaga, aku sedang sibuk belajar sendiri. Mengotak – atik rumus,
memahami pelajaran hapalan, dan terus berlatih latihan soal. Prinsip dari bapak
sangat sederhana. Prinsip itu lah yang aku terapkan sampai sekarang.
Orang
pintar itu nggak bimbel juga tetep pintar.
Taruhan, itu hanya alasan saja
karena orang tuaku tak punya biaya untuk daftar bimbel, hahaha.
Masa ujian nasional semakin dekat.
Tentu aku berkutat dengan semua yang berbau ujian nasional dan informasi
perguruan tinggi. Diantaranya tentang passing grade, data prestasi kakak kelas,
hingga memperkirakan nilai sekolahku di mata IPB.
Yah, ini kan salah satu sekolah
faforit di Banyuwangi. Aku yakin mampu menembus SNMPTN. Keyakinan itu bertambah
dengan beberapa piagam yang aku miliki.
Yakin dan pede itu beda tipis.
Sesuai strategi, aku menunggu
pengumuman diploma. Sumpah nunggu pengumuman diploma bener – bener menguras
emosi. Surat dari diploma IPB belum sampai rumah, tambah alamat yang kupakai
alamat rumah lama yang rumahnya saja dibeli orang. Aku khawatir kalau surat itu
hilang ketika pengiriman. Alhamdulillah IPB mengirim pengumuman ke SMA. Beruntung
surat itu tak menghilang di tengah jalan.
Supervisor Jaminan Mutu Pangan,
satu langkah punya tiket.
Tapi taruhan ini belum selesai.
Dengan biaya persemester diploma yang lumayan besar, bagaimana keluargaku sanggup
membayar?
Oke, kata bapak minimal aku punya
pegangan.
Hari yang ditunggu semua siswa se
Indonesia datang. Pengumuman SNMPTN. Aku masih ingat apa yang terjadi pada
malam hari sebelum pengumuman SNMPTN. Aku sakit perut dan bolak – balik kamar
mandi karena neveous. Mengingatnya
aku selalu ingin tertawa.
Sebelum pergi ke warnet, aku shalat
dhuhur dulu. Meminta yang diberi yang terbaik. Apapun yang terjadi inilah jalan
terbaik dan aku tak boleh menyesal. Berangkatlah aku ke warnet bersama bapak.
“Kalo lulus IPB besok kita jalan –
jalan.” janji bapak membuatku tersenyum lebar.
“Beneran?” aku makin gugup
sekaligus senang. Keluarga ini selalu bekerja dan besok akan jalan – jalan! Dan
itu karena aku masuk SNMPTN!
Semoga.
“Iya, tanya aja sama ibumu.” ucap
bapak sembari menurunkan aku di depan warnet.
“Yaudah aku mau lihat pengumuman
dulu. Bapak pulang aja. Entar kalo udah aku sms buat jemput.”
Bapak mengangguk dan aku segera
berbalik masuk warnet. Tak benar – benar memperhatikan bapak pulang atau tidak.
Aku menghadapi layar komputer.
Jantungku berdetak cepat. Otakku berdesing memikirkan ekspresi apa yang
sebentar lagi kulakukan. Senyum lebar? Lonjak -
lonjak? Bersujud? Ah aku tak sanggup memikirkannya lebih jauh. Pede
masuk IPB.
Baiklah, mari kita masukkan NISN
dan tanggal lahir. Enter.
LOADING...
Aku memejamkan mata.
Hasilnya
keluar...
Jantungku berhenti berdetak.
Kepalaku tiba – tiba pusing. Aku menelan ludah. Pahit.
Merah!
Artinya? Ditolak!!!
Aku tersenyum getir. Ditolak
SNMPTN? Aku membaca tulisan berulang kali. Tak ada yang salah. Benar itu namaku
dan tanggal lahirku. Apa yang salah? Siapa yang perlu kusalahkan atas semua
ini?
Aku menenangkan diri sendiri.
Inilah jalan yang terbaik. Porsi yang diberikan padaku mungkin diploma IPB,
bukan S1. Apa karena aku sudah masuk diploma jadi IPB menolak? Lagi – lagi
pikiran tidak bersyukur mulai mempengaruhiku. Meski begitu, aku memberi selamat
semua teman – teman masuk SNMPTN lewat media sosial. Aku masih ketawa – ketiwi dengan
riangnya, bahkan aku bercanda seru di chat kelas.
Tapi tidak dengan hatiku. Anehnya,
meski aku tertawa, hatiku semakin sesak.
“Bagaimana Far?” Tanya seseorang
memaksaku mengangkat kepala.
Bapak berdiri di depanku.
Aku kaget, namun tawaku lebih dulu
menyembur. “Hahaha nggak masuk.”
“Serius?” Bapak langsung ikut masuk
bilik dan memastikan langsung.
Wajahku masih sama. Aku tidak
menangis, sebaliknya tertawa cekikikan. Hanya saja hatiku sesak.
“Ya udah bapak pulang saja. Aku
masih mau facebook’an dulu ya.”
“Udah ah ayok pulang aja, ngapain
di sini?” wajah bapak terlihat tenang. Senyum pengertiannya mengembang.
“Nggak ah, masih pengen main dulu.”
Aku terkekeh. Ngotot tak mau pulang. Padahal aku tau, semakin lama aku menatap
facebook, pertahananku mungkin jebol.
“Ngapain di lama – lama, ayo makan
aja.” Senyum bapak masih kekeuh memaksaku enyah dari warnet. Terpaksa, aku
bangkit dan menurut.
Aku dan bapak keluar dari warnet.
Bapak berjalan lebih dulu untuk mengambil sepeda. Melihat punggung bapak, entah
mengapa dadaku berubah nyeri. Mataku mengabur. Sebelum aku mampu menahan diri,
air mataku lebih dulu jatuh.
Aku kan sudah bersyukur masuk
diploma, kenapa aku masih menangis?
Allah sudah memberi yang terbaik,
mengapa aku masih egois meminta lebih?
Tiba – tiba suara jujur ibu kembali
menyeruak.
Sejujurnya
ibu tak sanggup menguliahkanmu, kecuali kamu dapat beasiswa.
Mengingatnya air mataku jatuh
semakin deras. Apa yang harus kulakukan? Apa semua berakhir dengan tidak
kuliah? Diploma baru semester tiga bisa mengajukan beasiswa. Sedangkan rencana
semula aku harus mendapat bidik misi bila ingin lanjut kuliah.
“Kamu kenapa menangis?” Bapak
memandangku lemah lembut. Siap mendengar ceritaku.
Aku tertawa. “Siapa yang nangis,
aku lho cuma kelilipan.”
“Far ...”
“Aku nggak apa – apa pak ...” aku
memandang bapak sedih. Aku ingin berteriak tentang apa yang kurasakan. Semua
ketakutan dan beban yang menghimpit kurang lebih empat tahun. Namun aku
mengerti, tanpa aku berteriak pun beban beliau lebih berat daripada aku.
Lagipula, seandainya aku bercerita pun, apa akan menyelesaikan masalah? Tidak!
Menambah pilu di hati bapak itu yang mungkin terjadi.
“... aku tak apa. Bapak jangan
mengkhawatirkanku.” Tutupku sembari menunduk. Tidak ingin bicara lebih, suaraku
enggan keluar.
***
Empat bulan lalu.
Sejak awal hidupku sama, penuh
dengan taruhan. Setelah taruhan pada SNMPTN kalah, aku pesimis. Aku ragu
mencoba. Aku model orang yang sangat perhitungan. Seandainya ada suatu tes yang
kemungkinan besar aku gagal, aku tak mau mencoba. Buang – buang waktu. Pikiran
realistis yang selalu aku terapkan pada semua aktivitasku. Kecuali satu hal,
ikut tes SBMPTN. Tentunya kemungkinan masuk untukku nol persen.
Bayangkan saja, seorang aku yang
tidak bimbingan belajar, bisa apa? Tes SBMPTN terkenal dengan soal – soal
saktinya. Banyak pendaftar yang tumbang, ditambah kuota di perguruang tinggi
sedikit sekali. Persiapanku nyaris tak ada. Pun, sejak awal aku memang tak
berniat bimbingan karena aku taruhan pada SNMPTN.
SBMPTN? Memikirkannya saja aku
sakit perut. Aku enggan ikut tes. Kalau saja bapak dan ibu tak memohonku
mendaftar, tentu aku tak pernah berangkat.
Sebelum aku berangkat daftar ulang
diploma, aku tes dulu di panlok Jember. Masih ingat perasaanku kala itu. Tes hari
itu adalah taruhan terbesar, sekaligus taruhan paling pesimis yang pernah
kulakukan.
Farah
... kemanapun itu, Diploma atau S1, aku nggak mau ada perasaan menyesal. Aku
hanya ingin semangat, syukur dan sikap pantang menyerah. Aku mau kamu berusaha
keras, sama seperti kamu rela jatuh ketika tanding basket. Sikap itu yang perlu
kau lakukan, tidak menyerah sampai titik terendah sekalipun.
Diploma
atau S1, apapun itu, adalah jalan Allah yang terbaik untuk hidupmu.
Bersyukurlah, tersenyumlah.
Itu isi buku harianku hari itu. Tes
SBMPTN adalah kesempatan terakhirku seandainya ingin masuk S1. Taruhan yang
berat sebelah. Kalau pun aku ingin berhasil SBMPTN, harusnya aku punya jeda
untuk belajar. Nyatanya bekalku sedikit, buku referensi minim. Mengerjakan soal
saja aku seadanya. Intinya aku sudah mengerjakan sebisaku dan sesuai
kemampuanku. Yah walaupun ada jawaban yang nembak, hahaha.
Taruhan selanjutnya dimulai. Aku
berangkat ke Bogor untuk daftar ulang diploma. Masalah biaya awal keluargaku
patungan dengan kerabat. Rencana jangka menengah yang harus kudapatkan adalah
beasiswa, apapun caranya. Jadilah matrikulasi diploma aku berusaha keras.
Target minimal B harus ada di tangan. Kata harus
membuatku bekerja keras hingga berat tubuhku turun delapan kilogram selama
matrikulasi. Hebat!
Selama matrikulasi diploma aku
mulai menata tujuan. Start hidup
dimulai di sini, pikirku. Berada di jurusan pangan yang selama ini tidak
terlintas di otakku. Terlebih supervisor jaminan mutu pangan berkutat pada
laboratorium. Aku benci laboratorium. Suasana sepi, diam, dan serius, itu bukan
aku. Meski begitu aku berusaha menerima. Percaya bahwa ini jalan terbaik.
Sukses tidak hanya S1, diploma juga tak kalah sukses kok.
Perlahan namun pasti, aku mulai
mengubur mimpi masuk S1. Memikirkan sesuatu yang tak pernah bisa kita capai
adalah sia – sia kan? Mengharap waktu kembali pun juga mustakhil.
Ucapan bapak ketika mengantarkan ku
ke Bogor sering membuatku termenung.
Kamu
hanya membohongi diri sendiri. Aku tau perasaanmu. Terlebih ketika kamu
menangis dan berkata baik – baik saja berada di Diploma. Bapak pernah berada di
tempatmu ketika muda, merasakan hal yang sama.
Membohongi diri sendiri atau apapun
itu namanya, tak mengubah segala sesuatu yang kita inginkan menjadi kenyataan
kan?
Aku sudah ikhlas melepas S1, tak
pernah mengharap lagi. Sampai akhirnya hari itu datang, pengumuman SBMPTN.
Aku pulang kuliah selepas magrib.
Hari itu banyak sekali pikiran. Praktium kimia dasar gagal, kuis untuk pertama
kalinya mendapat seratus, tambah belum buka puasa. Orang tua sms penasaran
dengan pengumuman. Sembari buka puasa pukul setengah tujuh, aku menghadap
laptop.
Oke, masukkan NISN dan tanggal
lahir. Enter.
LOADING...
Aku membuang muka. Toh hasilnya
sama saja, aku takkan masuk. Orang tuaku saja yang berharap lebih. Aku tak mau
berharap terlalu tinggi, sakit.
Piring yang ku pegang merosot.
Dadaku berhenti berdetak. Aku seperti sesak nafas dan mengucek mata beberapa
kali. Detik berikutnya tubuhku gemetar.
Selamat
anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2014 ...
Masuk? Ini beneran????
Spontan aku sujud syukur. Aku lupa
buka puasa. Aku lupa dengan suara histeris teman satu kost’an yang memberi
selamat. Segera aku mengetikkan sms ke orang tua.
Aku
masuk S1 IPB.
Singkat dan padat. Aku tak tau
bagaimana cara berekspresi yang tepat, namun aku tau pasti, air mata bersyukur
luruh. Keajaiban Allah selalu datang pada saat yang tepat. Aku percaya itu.
“Dan
(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami menambah (nikmat) kepadamu, namun jika (sebaliknya) kamu
justru kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
***
Ibu
masih ingat malam itu, tiba – tiba bapakmu lari sambil membuang plastik yang
dia beli. Ibu sangat bingung ketika bapak memeluk ibu sangat erat, mencium pipi
ibu berulang kali. Matanya berkaca – kaca.
“Farah
masuk SBMPTN.”
Mendengar
itu, tak hanya bapak, ibu langsung menangis bersyukur.
Alhamdulillah
ada jalan nak yang sesuai dengan mimpimu, juga untuk perekonomian keluarga
kita. Ibu tau kamu membohongi diri sendiri dengan berkata baik – baik saja. Ibu
tau perasaanmu. Dan ibu sangat bersyukur, Allah mendengar semua doa yang setiap
malam kami panjatkan.
Untuk
kebahagiaanmu, hidupmu.
***
Rintik hujan berangsur reda. Aroma
petrichor masih tersisa. Aku kembali duduk dan tersenyum kecil. Bogor memang
menakjubkan.
Hujan
membuat memori secara rileks memutar masa lalu. Entah kenangan sedih maupun
bahagia. Kalau mau diam dan bersedih akan banyak hal itu gampang kok, tapi diam
dan memikirkan hal – hal yang menyenangan juga sama gampangnya.
Kamu
pilih yang mana?
Aku pilih keduanya.
Kenapa?
Karena perlu keduanya untuk
bersyukur bahwa Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang
kita inginkan. Hidup itu harus dirasakan, disiasati, dan dijalani.
***
Selesai
Story
by Farah
Maulida
AGH ’51 / FAPERTA
Kinan tak mengerti alasan Radit
terus mengganggunya. Seingatnya, dia sudah meminta maaf ketika tak sengaja
menumpahkan air di celana cowok itu. Pertengkaran terus berlanjut hingga secara
tak terduga mereka terdistorsi ke masa Perang Diponegoro. Dalam keadaan
kebingungan, keduanya bertemu Kiara, yang anehnya memiliki nama dan wajah yang
mirip dengan Kinan. Kiara menjelaskan alasan keduanya mundur dua abad, yang
ternyata akibat sinyal cahaya yang Kiara kirimkan salah masuk dimensi waktu.
Tak ada cara kembali kecuali mereka berdua menyelesaikan misi membebaskan anak
Pangeran Diponegoro yang ditahan Belanda, Raden Mas Raab. Keduanya terpaksa
memakai nama samaran untuk menghindari kecurigaan masyarakat.
Petualangan dimulai. Mereka memulai
langkah di desa Purwoharjo. Disana mereka tinggal di rumah Kunti dan bertemu
pemuda bernama Haryo. Mereka bertiga berusaha menghindari kecurigaan Kunti dan
Haryo, sembari mengumpulkan informasi dan perbekalan mencari Pangeran
Diponegoro. Jatuh bangun mereka lalui, termasuk Radit yang babak belur di
tangan Haryo dan Kinan yang terpaksa berlatih senjata ditemani Kunti. Harapan
akhirnya datang ketika Kunti memiliki rencana rahasia mencari Bapaknya yang
berjuang bersama Pangeran.
Mereka berempat meninggalkan desa
diiringi pernyataan cinta Haryo pada Kunti. Selama perjalanan pertumpahan darah
pecah. Mereka harus melawan para bandit yang mengincar harta benda milik
mereka. Kiara, Radit, dan Kunti mati-matian menyelamatkan Kinan. Mereka bertiga
terluka. Kunti pingsan, Kiara kehabisan tenaga, dan Radit terpaksa menjadi
pembunuh yang membuatnya trauma berat. Kinan akhirnya berani membunuh setelah
melihat nyawa Radit terancam oleh pemimpin bandit.
Kinan sudah putus asa mencari
bantuan kalau saja mereka tidak ditemukan para pedagang, yang ternyata adalah
pasukan Pangeran Diponegoro. Mereka dibawa menuju perkemahan. Disana luka-luka
Radit, Kiara, dan Kinan diobati, sementara Kunti sangat bahagia bertemu Bapak.
Kebahagiaan Kunti tak berlangsung lama ketika firasatnya menjadi kenyataan.
Bapak meninggal setelah memeriksa keamanan barisan pertahanan di desa
Tegalpare. Kunti limbung. Sebagai sahabat, mereka bertiga berusaha keras
mengembalikan senyum Kunti. Alih-alih kembali normal, Kunti malah menyandera Kinan
dan memaksa Kiara dan Radit mengungkap jati diri mereka. Kiara yang tak punya
pilihan akhirnya menjelaskan bahwa mereka berasal dari masa depan. Kunti yang melihat
kesungguhan mereka bertiga, akhirnya memutuskan menggadaikan nyawa demi membantu
kembali ke masa depan.
Situasi perkemahan memanas.
Perundingan di Residen Magelang semakin dekat. Kinan, Kunti, dan Kiara diminta
menjadi telik sandi wanita yang menyusup sebagai pelayan. Awalnya Radit menolak
keras kepergian mereka, sampai akhirnya air mata Kinan meluluhkan hatinya, dengan
syarat Kiara dan Kunti melindungi Kinan mati-matian. Hadirnya Ayu Wiyat yang
tak lain adalah pemimpin pasukan telik sandi wanita mengurangi kekhawatiran Radit.
Mereka berempat berhasil menyusup
Kantor Residen Magelang dengan menyamar. Tempat Raden Mas Raab disembunyikan
akhirnya diketahui setelah Kinan menguping pembicaran rapat petinggi Belanda. Mereka
bergerak cepat untuk membebaskan Raden Mas Raab. Pengorbanan tak sedikit dalam
usaha tersebut. Kunti malangnya dibunuh pasukan Belanda dan Kinan diamankan pasukan
Belanda. Kinan disiksa dan digauli petinggi Belanda, Rasiden Smissaert, agar
gadis itu buka mulut.
Hari perundingan tiba. Pangeran
Diponegoro datang ditemani lima orang, salah satunya adalah Radit yang menyamar
sebagai Raden Mas Raab palsu. Perundingan berjalan alot antara kedua belah
pihak. Di tengah perdebatan, Residen Smissaert membawa masuk Kinan yang babak
belur. Seketika amarah Radit meledak. Dia menyuruh Raden Mas Jonad berlari ke
ruang bawah tanah dimana Kiara dan Raden Mas Raab berada, sementara dia memukul
mundur sebagian pasukan pengawal Belanda demi menyelamatkan Kinan.
Akhirnya Radit mengungkapkan
perasaannya. Kinan awalnya menahan diri mengingat perlakuan Residen Smissaert
yang menghancurkan harga dirinya. Lalu Kinan sadar, Residen Smissaert memang
menghancurkan hidupnya, namun Residen Smissaert tak berhak menghancurkan
kebahagiaannya. Sebelum deru senapan mencabut nyawa keduanya, Kinan berkata
bahwa dia juga mencintai Radit jauh sebelum petualangan mereka dimulai.
Radit menutup mata. Dia yakin
tempatnya sudah di dunia roh. Namun setitik cahaya memaksanya membuka mata.
Radit terpaku menyadari dia kembali ke kamar mandi sekolah. Segera dia berlari
menuju kelas dan mencari Kinan, berharap gadis itu juga selamat. Dada Radit
seketika lega melihat Kinan kembali dari kamar mandi bersama Jani. Dia menulis
di secarik kertas, mengatakan bahwa Radit senang gadis itu kembali ke masa
depan. Perasaan bahagia Radit sontak lenyap saat menemukan surat balasan Kinan
berkata sebaliknya. Gadis itu lupa ingatan akan petualangan mereka!
Usai pulang sekolah, Radit bersiap
naik bis hingga tanpa sengaja seorang gadis nyaris jatuh dihadapannya. Spontan
Radit menangkap gadis. Gadis itu buru-buru pergi tanpa mengucapkan terima
kasih. Radit sudah mengabaikan gadis itu kalau saja matanya tidak menangkap secarik
kertas yang ditujukan untuknya.
Gadis itu yang tak lain adalah
Kiara, berpesan pada Radit agar tak
menyerah terhadap Kinan. Menurutnya, lupa ingatan Kinan adalah jalan terbaik
agar gadis itu hidup normal tanpa bayang-bayang perlakuan Residen Smissaert.
Radit tersenyum membaca surat Kiara, lalu bertekad terus berjuang meyakinkan
perasaan Kinan. Radit tak sadar, Kiara tak lain adalah anaknya di masa depan hasil
pernikahan dengan Kinan. Misi Kiara kembali ke masa lalu adalah menyatukan
kedua orang tuanya.
***
Note : Ini adalah novel ciptaanku. Berminat baca? Bisa email di farahmaulida58@gmail.com. Terima kasih :)
In
PROSA,
Kita Bertiga
Aku benar – benar penasaran apa yang akan terjadi diantara
kita bertiga.
Kita hidup serba berlainan, padahal satu saudara. Kita
tumbuh di lingkungan yang berbeda, dengan pola didik yang tentu tak sama. Kamu
– Sulung, Aku – Tengah , dan dia – Bungsu, kita berjalan dengan kasih sayang
yang tak seimbang. Kita hidup terpisah dengan rentang umur yang jauh. Kamu yang
tumbuh bersama nenek, aku yang tumbuh sendirian, dan dia yang tumbuh bersama
ayah ibu.
Jika kau ingin bertanya tentang aku, baik akan ku katakan
bagaimana perasaanku. Sebagai seorang anak tengah, satu – satunya wanita,
seseorang yang hidup sendirian, aku merasa tak baik. Aku sering berdebat dan mengeluh betapa hidup
ini tak adil. Aku ingin memutar waktu sehingga kita bertiga bisa hidup bersama,
lengkap dengan gelak tawa penuh keakraban. Aku ingin kita berjalan seirama,
saling mengerti satu sama lain, dan melindungi apapun yang terjadi.
Hingga aku akhirnya sadar, saat yang kuimpikan itu takkan pernah terjadi!
Waktu tidak bisa di putar, sebaliknya waktu yang
mendewasakan. Menyadarkan bahwa mimpi atau apapun itu namanya tak seharusnya ku
miliki. Langkah memaksaku terus berjalan, tak merelakanku lemah. Ada kalanya
aku larut dalam masa lalu. Saat – saat kita kecil dahulu. Belari di tengah
hujan, duduk di belakang kayuhan sepeda minimu, dan hanya berteriak kesal
ketika kau curang main monopoli. Semua ingatan itu masih melekat dalam
ingatanku. Juga marahmu ketika aku menghakimi atas hidup yang kau jalani.
Seharusnya aku mengerti hidupmu juga sama sulitnya. Hidupmu, hidup kita, yang
tak pernah bebas karena berada di tangan orang lain. Harusnya aku mengerti
betapa tertekannya hidupmu di masa lalu. Nyaris, mirip, aku merasakan yang
sama.
Karena itulah, aku berusaha yang terbaik untuk dekat dengan
dia. Bungsu yang banyak kata sudah merasakan kurang beruntung. Dia yang tidak
terlalu hebat akademis, namun aku tetap kagum dengan kemampuan dagangnya. Dia
yang aku sayang, aku rindukan suaranya. Hubunganku denganmu sudah terlalu jauh,
hingga aku tak ingin kehilangan dia.
Masa lalu kita sulit, begitu pun masa depan. Masing –
masing dari kita telah mengupayakan yang terbaik dalam menjalani hidup. Kita
semua tau, kita kurang kasih sayang, hingga akhirnya beberapa dari kita telah
memutuskan hidup untuk siapa. Kau untuk temanmu, aku untuk ayah ibu, dan dia
yang ku rasa juga untuk ayah ibu. Bila kau memutuskan menjauh dari kami, aku
tak mampu mencegah. Semua kembali pada pilihan. Hanya yang seharusnya kau tau
...
Kami menyayangimu,
dan kami berharap kau juga menyayangi kami.
Ya, Kamu – Muhammad
Yusron Fauzi, aku – Farah Maulida, dan dia – Isfahani Ramadani. Masing –
masing dari kita memiliki jalan berbeda yang entah bagaimana akhirnya. Hanya
saja, aku penasaran bagaimana cara kita bertemu di satu titik dan membuat pola
indah untuk akhir hidup kita.
Beberapa hari ini terlalu banyak berpikir. Otak sering sekali panas, wajar bawa’annya jadi negatif think. Kebanyakan pesimis. Dan itu sangat berakibat buruk bagi fisik.
Dari semua itu, pasti ada alasan kenapa menggunakan otak untuk berpikir sampai jatuhnya malah (mau) jadi pesimis. Yups, sebagai mahasiswa baru (semester 2), ada coba-coba ikut organisasi mahasiswa.
Call it Century. This organisasion about center of entrepreneur for youth. Like the name, our activity all about business, finance, production, relation, human resource development, and marketing. Many event here, and the next event are CNE and IBF. CNE (Century Networking Event) is a event visit a company and study what kind of structure there. About IBF (IPB Business Festival), many event here. There’s Business plan, Debate marketing, Simbis (Simulasi bisnis, fyi the participant of this event is ASEAN REGION. Wanna join? We will meet here).
I one of the committee in these event! Di balik semua tugas sosum, fisika, dan pancasila yang bejibun ini, gue jadi panitia dua acara itu!!! Sombong amat yak semua kepanitiaan diikutin, berani banget. Gue niatnya coba-coba, secara temen-temen pada ikut. Setelah sadar apa yang sudah gue lakukan, pening. Satu sisi gue nggak mau IP gue jatuh di semester dua. Ini semester sakral jadi gue nggak boleh turun nilainya. Semester pemula udah keren, masa nilai gue mau turun? OH NOOOOO!!
Tentu gue merasa berat. Lalu gue mencoba selow, terlebih setelah buka Al-Qur’an secara asal dan nemuin apa yang Allah ilhamin ke gue… intinya nih, di luar sana banyak orang yang nggak dikasih nikmat lebih tentang indra ataupun kemampuan. Ada pun kamu yang diberi kemampuan lebih, kenapa tidak menggunakannya untuk kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain?
Ceesss… rasanya adem. Gue jadi sadar, ini tantangan! Apa hidup gue akan selow dengan belajar mulu, gabut, dan bawelin orang (temen-temen diploma) aja? Gue harus show up doong. Gue harus nunjukin sama diri sendiri. Dibalik padatnya kuliah (tugas) gue, IP gue nggak akan turun!!! Gue bisa dan harus bisa. Nggak ada kata pesimis. Semua itu di jalanin. Kalo cuma dipikir dan dirasain sih, yah hidup bakal stag di tempat aja, nggak akan berkembang. Gue jadi membayangkan, mungkin ini latihan kalo gue udah kerja (di perusahaan sendiri) kalo udah gede. Kalo gue gagal, gimana nasib kuliah gue kalo entar semester tiga gue pengen ikut himpro? Di ujung tanduk kali yaa? wkakaka.
So guys, this what I know. Try new things and study from these. You will find who are you ‘cause you have many experience. And next days, you can share your great story to your children in order to they proud have a parents like you, a parents who always study and never boring get more.
